"Ssst! Jangan bicara. Kita harus pergi," jawab Kanha, tangannya sibuk melepaskan ikatan terakhir.

Namun, sebelum mereka bisa kabur, salah satu pria besar menyadari keberadaan mereka. "Hei! Anak kecil itu!"

Pria itu berlari ke arah mereka, tetapi Kanha menarik Rira dan mendorongnya untuk lari. "Cepat, aku akan mengalihkan perhatian mereka!"

"Kanha, jangan—"

"Pergi!" seru Kanha dengan tegas.

Rira akhirnya berlari ke arah arena, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Kanha begitu saja. Di tengah langkahnya, ia berhenti dan berbalik, melihat Kanha yang sedang dikepung oleh dua pria besar.

Kanha melompat ke atas pohon kecil, mencoba menjauhkan diri dari jangkauan mereka. "Kalian tidak akan bisa menangkapku, dasar raksasa bodoh!" ejeknya, menjulurkan lidah.

Pria pertama melompat ke arah Kanha, tetapi dahan pohon yang ia injak patah, membuatnya jatuh dengan keras ke tanah. Pria kedua mencoba menangkap Kanha, tetapi Kanha melempar segenggam pasir ke matanya, membuatnya berteriak kesakitan.

"Dasar anak kecil!" teriak pria itu, tetapi sebelum ia bisa menyerang lagi, Rira muncul dari belakang dan menghantam kepala pria itu dengan kayu besar.

"Sekarang kita pergi!" seru Rira, menarik Kanha yang masih ingin melawan.

Mereka berlari kembali ke arena, mendekati tempat Lynx yang masih berada di tengah pertarungan melawan Banu.

Kembali ke Arena

Sementara itu di pertandingan, penonton mulai tidak sabar melihat pertandingan mereka yang tidak kunjung selesai. Mereka melihat Lynx hanya bisa menghindar, sementara Banu terlihat mulai kelelahan.

Lynx, yang terus mengulur waktu, akhirnya melihat Rira dan Kanha muncul di tepi arena. Tatapannya bertemu dengan Kanha, yang memberi isyarat dengan jempol ke atas. Lynx segera menyadari bahwa rencana Banu telah gagal.

Wajah Lynx berubah dari tenang menjadi dingin. Ia menghindari satu serangan terakhir dari Banu, lalu dengan cepat menyerang balik, meraih lengan Banu yang sedang menyerang dan memelintirnya.

Banu berteriak kesakitan, tombaknya terlepas dari genggamannya. Lynx mendorongnya mundur, membuat Banu terhuyung ke belakang.

"Permainanmu sudah selesai," kata Lynx dengan nada dingin.

"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu tidak menginginkan Rira selamat? Ingat dia akan dibunuh jika kamu masih melawan." Bentak Banu dengan emosi.

"Sebaiknya kamu melihat ke arah belakangmu," kata Lynx sambil menunjuk ke sebuah arah.

Banu yang meilhat Rira bersama Kanha dan Narendra menyadari, rencana dia telah gagal dan dia harus bisa menghabisi Lynx segera.

Namun, mengetahui rencananya berantakan, dia terlihat panik, dan mencoba menyerang lagi dengan tangan kosong, tetapi Lynx menghindar dan memukul perutnya dengan siku. Banu jatuh ke tanah, terengah-engah, tubuhnya gemetar karena rasa sakit.

Rira dan Kanha mencapai tepi arena, bergabung dengan Narendra yang menonton dengan penuh kecemasan.

"Dia luar biasa," bisik Rira, matanya terpaku pada Lynx.

Narendra hanya mengangguk, penuh rasa kagum.

Banu, yang kini terbaring di tanah, menatap Lynx dengan penuh kebencian. "Ini belum selesai... Aku akan membuatmu membayar semua ini..."

Lynx berdiri tegak, menatapnya dengan mata dingin. "Kau sudah kalah. Terima kenyataan."

Sorakan penonton mulai menggema, tetapi Lynx tidak memperhatikan mereka. Ia hanya melangkah keluar dari arena, bergabung dengan Narendra, Kanha, dan Rira.

Namun, di dalam hati, Lynx tahu bahwa ancaman Banu belum berakhir. Ini hanyalah awal dari konflik yang lebih besar.

Setelah Lynx membawa mereka kembali ke arena, suasana di sekitar mulai tenang. Namun, perhatian Rira terpaku pada Lynx yang berjalan dengan langkah mantap meskipun baru saja mengalami momen menegangkan sebelumnya.

"Lynx!" Rira berlari menghampirinya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Apa kau baik-baik saja? Banu memukulmu begitu keras tadi..."

Lynx hanya tersenyum kecil, menepuk bahu Rira dengan ringan. "Aku baik-baik saja. Itu tidak seberapa. Lagipula kita sudah menang. Yang terpenting kita harus lebih berhati-hati lagi sejak sekarang."

Rira menggigit bibirnya, merasa bersalah. "Aku minta maaf... Semua ini terjadi karena aku."

Kanha, yang mendengar itu, melompat mendekat. "Rira, jangan khawatir! Kak Lynx itu seperti batu besar—nggak bisa dihancurkan! Malahan aku yang harusnya berterima kasih padamu, kan aku jadi punya petualangan seru tadi!"

Rira menatap Kanha, matanya berkaca-kaca. "Kau sangat berani, Kanha. Terima kasih untuk semuanya."

Kanha membusungkan dada dengan bangga. "Tentu saja! Aku kan pahlawan kecil!"

Narendra mendekati mereka, menepuk kepala Kanha dengan lembut. "Kau memang pahlawan, Kanha. Tapi lain kali, biar aku saja yang menyelesaikan masalah seperti itu."

Lynx tertawa kecil. "Mari kita fokus pada pertandingan berikutnya. Aku rasa hal-hal menarik belum selesai di sini."

Arena sunyi ketika Arkha melangkah maju ke tengah lapangan. Tubuh besar dan berototnya memancarkan aura percaya diri yang mengintimidasi. Tombak panjang dengan ujung batu tajam berkilauan di tangannya, dan langkahnya yang mantap membuat penonton bersorak.

Di seberang lapangan, orang misterius itu berjalan perlahan, tubuhnya dihiasi cat aneh yang mencolok. Ia tetap tenang, tanpa ekspresi, tidak ada tanda-tanda gugup atau gentar.

Arkha tersenyum mengejek. "Kau terlihat seperti seseorang yang tersesat dari pertunjukan, bukan arena pertempuran. Apa kau benar-benar ingin melawanku? Aku bisa membuat ini cepat jika kau menyerah sekarang."

Orang misterius itu tidak menjawab. Tatapannya tetap fokus pada Arkha, seolah-olah menganalisis setiap gerakannya.

Penonton mulai berbisik. "Siapa dia sebenarnya?" "Apa dia akan bertahan melawan Arkha?"

"Ayo Arkha, kalahkan dia dengan segera," teriak penonton lainnya.

Wasit memberi isyarat untuk memulai pertandingan, dan Arkha langsung bergerak maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk pria sebesar itu. Tombaknya melesat seperti kilat, menusuk udara dengan kekuatan yang cukup untuk merobek batang pohon.

Namun, lawannya menghindar dengan langkah ringan, nyaris seperti menari. Tombak Arkha meleset hanya beberapa inci dari tubuhnya, dan ia melompat mundur dengan kelincahan yang membuat penonton terkejut.

"Orang itu mampu menghindari serangan Arkha," kata seorang penonton.

"Itu hanya kebetulan, Arkha akan segera menjatuhkannya." Penonton lain ikut berkomentar.

Sementara itu Arkha menggeram, matanya menyipit. "Jadi kau hanya akan menghindar? Ayo, lawan aku seperti seorang pria sejati!"

Tanpa peringatan, orang misterius itu menyerang balik. Ia maju dengan langkah cepat, memanfaatkan momentum untuk meluncurkan pukulan keras ke arah Arkha. Tombak Arkha bergerak menangkis, tetapi kekuatan pukulan itu membuatnya mundur beberapa langkah.

"Dia kuat," gumam Arkha sambil memutar tombaknya untuk menyerang lagi.

Arkha melancarkan serangan bertubi-tubi, tombaknya bergerak cepat dalam kombinasi tusukan dan sapuan yang mematikan. Penonton mulai bersorak, mengira serangan itu akan mengakhiri pertarungan.

Namun, orang misterius itu sekali lagi menghindar dengan kelincahan yang luar biasa. Setiap serangan Arkha meleset, dan lawannya mulai mendekat dengan gerakan yang hampir tidak terlihat.

"Arkha, jangan main-main. Jatuhkan dia segera." Teriak Ayah Arkha dari sisi panggung.

Arkha mengubah taktiknya, menggunakan kekuatan penuh untuk menebas ke samping. Tombaknya menghantam tanah dengan keras, menciptakan awan debu yang membutakan pandangan. "Apa kau bisa menghindari ini juga?" teriaknya.

Ketika debu mulai menghilang, orang misterius itu muncul dari sisi kanan Arkha, meluncurkan tendangan cepat yang menghantam sisi perut Arkha. Tendangan itu membuat pria besar itu terguncang, tetapi dia tidak jatuh.

"Bagus," kata Arkha, suaranya penuh rasa hormat. "Kau tidak hanya cepat, tapi juga tahu cara melawan. Tapi aku belum selesai!"

Arkha menyerang lagi, kali ini mencoba mengepung lawannya dengan gerakan besar untuk membatasi ruang geraknya. Namun, orang misterius itu membalas dengan langkah-langkah yang presisi, selalu berada satu langkah di depan Arkha.

Penonton terdiam, menyaksikan dengan kagum bagaimana orang misterius itu melawan salah satu petarung terbaik dengan begitu mudah.

"Apa kau ini masih manusia?" Arkha bertanya, frustasi. "Kenapa kekuatan kita sangat jauh berbeda?"

Lawan misterius itu tetap diam, hanya menyerang dengan pukulan dan tendangan yang terus mendorong Arkha mundur.

Namun, Arkha tidak menyerah. Dengan raungan penuh amarah, ia melepaskan tombaknya dan menyerang dengan tangan kosong. Pukulan-pukulannya menghantam udara, tetapi lawannya menangkis setiap serangan dengan lengan yang terlihat jauh lebih kecil.

Pada satu momen, Arkha berhasil mengunci lawannya dalam pelukan erat. "Akhirnya aku menangkapmu!Aku tidak akan melepaskanmu" serunya, mencoba menggunakan kekuatannya untuk mematahkan perlawanan.

Tetapi orang misterius itu menggunakan lututnya untuk menghantam perut Arkha dengan keras, membuat pria besar itu kehilangan pegangan. Dalam sekejap, ia membalikkan tubuh Arkha dan melemparkannya ke tanah dengan teknik yang sangat terlatih.

Arkha terkapar, terengah-engah, tetapi masih mencoba bangkit.

"Lihat, bagaimana mungkin Arkha bisa dijatuhkan seperti itu," seorang penonton berkomentar tidak percaya.

Penonton lainnya ikut berkomentar, "Arkha ini orang yang paling di unggulkan dan kandidat terkuat menjadi orang terkuat di suku Raksa, kenapa tidak mampu mengalahkan lawannya."

Orang misterius itu melangkah maju, menatap Arkha dengan mata tajam, seolah-olah menunggu langkah berikutnya.

"Aku belum selesai!" teriak Arkha, mencoba bangkit lagi. Namun, tubuhnya tidak lagi bisa mengikuti kemauannya dan terjatuh pingsan.

Wasit melangkah masuk, mengangkat tangan orang misterius itu. "Pemenangnya adalah peserta dengan nomor tiga belas!"

Penonton mulai bersorak, meskipun sebagian besar tampak bingung dengan siapa sebenarnya orang itu. Ayah Arkha yang melihat pertarungan itu langsung pergi dengan kecewa dan marah.

Pertandingan hari itu sudah selesai, dengan menyisakan pertandingan final yang akan dilakukan keesokan hari antara Lynx dengan pria misterius tersebut.

Di luar arena, Lynx mengamati dengan seksama. Matanya menyipit, menganalisis setiap gerakan yang dilakukan orang misterius itu selama pertandingan. "Dia bukan petarung biasa, pengalaman bertempurnya sangat tinggi" gumamnya pelan.

Narendra yang masih dalam pemulihan menambahkan, "Dia jauh lebih kuat dari yang aku duga. Hanya kamu yang bisa melawannya Lynx."

Lynx tidak menjawab, matanya tetap tertuju pada orang misterius yang berjalan keluar arena dengan tenang. "Bukan hanya kekuatannya, tapi pengalaman bertempurnya yang membuat Arkha tidak bisa melawan. Kita akan tahu lebih banyak nanti mengenai orang itu," katanya.

Di sisi lain, Rira berdiri dengan cemas, tangannya menggenggam erat ujung bajunya. Matanya menatap Arkha yang terluka parah dan orang misterius yang melangkah pergi dengan tenang.

"Lynx…" Rira memanggil pelan, mendekat. "Kau melihat itu, kan? Bagaimana dia begitu kuat? Bagaimana kau bisa bertarung melawan seseorang seperti itu?"


